Kang Tuhu (99): AI Bisa Pintar, Tapi Belum Tentu Benar
Catatan reflektif dari seorang alumni HI UNPAD tentang hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan.
Namanya Lina, 29 tahun, karyawan muda di Jakarta. Suatu pagi ia panik. Presentasi yang disusunnya dengan bantuan AI berisi data yang ternyata salah—angka inflasi dan sumber kutipan tidak akurat. Kliennya langsung mempertanyakan kredibilitas timnya. Setelah diperiksa, ternyata AI yang ia andalkan “mengarang” data itu.
Sejak saat itu Lina mulai sadar: AI tidak selalu cerdas, kadang juga berhalusinasi. Namun ia juga merasa tidak bisa sepenuhnya meninggalkan teknologi itu—karena tanpanya, pekerjaan terasa lambat dan berat. Lina pun terjebak dalam dilema: antara efisiensi dan akurasi, antara produktivitas dan tanggung jawab.
Kisah seperti Lina kini bukan hal asing. Kita, pengguna AI, sering kali terlalu percaya pada hasilnya tanpa sempat bertanya, “Dari mana data ini berasal, dan siapa yang menanggung risikonya?”
Cepat Mengadopsi, Lambat Memahami
Indonesia termasuk negara dengan adopsi Generative AI tercepat di Asia Tenggara, tetapi tingkat literasi dan kesadaran etisnya masih rendah. Banyak yang jago memakai AI untuk menulis, meringkas, atau membuat ide, namun belum tentu tahu bahwa sistem tersebut bisa bias, salah, atau bahkan melanggar hak cipta.
Di sisi lain, pemerintah masih memandang AI terutama sebagai harapan besar—alat untuk menekan kemiskinan, membuka lapangan kerja, dan mempercepat pembangunan. Visi ini baik, tetapi belum diimbangi dengan edukasi publik tentang etika, keamanan data, dan dampak sosial AI.
Sementara di Eropa, pendekatannya justru kebalik. Adopsi AI di sana lebih banyak dimulai dari korporasi dengan regulasi ketat, dan pemerintahnya aktif melindungi privasi warganya. Kita di Indonesia tampak bersemangat mencoba setiap aplikasi baru—tanpa banyak bertanya soal konsekuensinya.
Buku Kecil Tentang AI dan Kemanusiaan
Dari kegelisahan seperti itulah saya menulis buku Error 404: Human Not Found. Buku ini bukan panduan teknis, melainkan panduan literasi ringan bagi masyarakat luas—ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Saya ingin setiap pembaca menyadari bahwa AI bukan ancaman, tapi juga bukan penyelamat. Ia hanyalah alat—dan alat secanggih apa pun tetap membutuhkan manusia yang sadar akan nilainya sendiri.
Dalam buku ini, saya mengajak pembaca untuk:
- mengenali potensi AI secara sederhana,
- memahami risiko seperti bias data, deepfake, dan AI hallucination,
- serta belajar menjaga etika, batas, dan tanggung jawab saat menggunakannya.
Karena jika kita tidak berhati-hati, kita bisa berakhir seperti Lina—terlihat produktif, tapi kehilangan kendali atas kebenaran yang kita ciptakan sendiri.
Dari UNPAD ke Dunia: Humanisme Sebagai Kompas
Sebagai alumni HI UNPAD angkatan 1999 (IKAHI 99), saya percaya nilai paling berharga dari masa kuliah kita adalah kemampuan untuk memahami manusia di balik sistem, dan struktur kepentingan di balik tiap aktor. AI, pada dasarnya, juga sama—ia tidak pernah bebas nilai. Ia dibentuk oleh data, dan data lahir dari cara pandang, bias, serta kepentingan manusia yang merancangnya.
Di sinilah peran kita sebagai manusia diuji: bukan sekadar menjadi pengguna yang kagum, tapi penafsir yang kritis. Empati membuat kita tidak kehilangan sisi kemanusiaan di tengah arus otomatisasi.
Analisis kritis membantu kita melihat siapa diuntungkan, siapa tertinggal, dan bagaimana teknologi bisa dimanfaatkan tanpa menyingkirkan nilai kemanusiaan.
Saya menulis buku ini bukan sekadar sebagai praktisi teknologi, tetapi sebagai manusia yang masih percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil—dari ruang kelas, dari obrolan antaralumni, dari keberanian untuk bertanya ulang: untuk siapa teknologi ini bekerja?
Penutup: Dari Kekhawatiran, Lahir Harapan
AI dapat membantu kita bekerja lebih cepat, berpikir lebih luas, dan mencipta lebih banyak. Tapi tanpa literasi, ia bisa menyesatkan arah. Masa depan AI di Indonesia tidak ditentukan oleh algoritma, melainkan oleh manusia yang memilih bagaimana menggunakannya dengan bijak. Dan kalau buku kecil ini bisa menjadi pemantik percakapan—tentang etika, tanggung jawab, dan kemanusiaan di tengah kemajuan digital—maka misinya sudah tercapai.

Buku “Error 404: Human Not Found” kini sudah tersedia di toko buku dan marketplace kesayanganmu.
Mungkin, seperti Lina, kita semua sedang belajar menemukan kembali sisi manusia di tengah dunia yang semakin cerdas.
Penulis: Tuhu Nugraha (IKAHI ‘99)
Editor: Deden H. A. Alfathimy (IKAHI 2010)